Pagi itu, hembusan angin seolah berkejaran dari laut ke pantai. Terasa sangat kencang. Maklum saja, cuaca di sekitar pelabuhan Anyer saat itu memang cerah. Jadi wajar, meski masih pukul 07.00 pagi, angin dingin yang berasal dari lautan segera menggantikan angin di daratan yang lebih panas karena sinar matahari begitu cepat diserap bumi.

Seolah membawa butiran-butiran air laut, angin pagi itu sangat menyejukkan. Begitu menghidupkan suasana pelabuhan. Ada nelayan yang baru datang membawa ikan, tapi ada juga yang baru berniat mengarungi lautan. Beberapa orang tampak akan menyebrang, sebagian memilih datang. Ombak menggulung dan memecah bergantian. Semuanya terasa berirama. Datang dan pergi silih berganti.

Namun bukan itu yang ingin kami ceritakan. Bukan tentang sandaran kapal sederhana dengan 2 dermaga kecil itu. Melainkan sebuah daratan kecil di antara Pulau Jawa dan Sumatera. Ya, orang menyebutnya Pulau Sangiang. Arah menuju Pulau Sumatera sejauh 10 km dari ujung barat Pulau Jawa. Atau selama 1 jam bila ditempuh menggunakan perahu motor atau perahu nelayan.

Pulau Sangiang. Pulau dengan iklim tipe B ini terletak di selat Sunda. Tergolong pulau kecil karena luasnya yang hanya ± 700 Ha. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten. Sementara kalau dilihat dari sisi geografis, terletak pada 105°49’30″ – 105°52’ BT dan 5°56’ – 5°58’50” LS. Dengan topografi bervariasi mulai dari landai, berbukit, agak curam sampai curam pada ketinggian 0 – 155 m dpl.

Awalnya pulau dengan intensitas curah hujan ± 1.840 mm/thn ini merupakan cagar alam. Kemudian perairan di sekitar kawasan diubah menajdi Taman Wisata Alam Laut pada tahun 1991. Sehingga luasnya pun bertambah menjadi 720 Ha. Berselang 2 tahun kemudian, luasan dari Taman Wisata ini dikurangi oleh pemerintah menjadi 528,15 ha.

Kalau mau menyambangi, selain melalui pelabuhan Anyer, pulau yang dihuni 50 keluarga tersebut juga dapat dicapai dengan menggunakan perahu motor dari kawasan Pantai Manuk di Desa Cikoneng. Dari Jakarta atau kota sekitarnya dapat ditempuh menggunakan bus atau kendaraan pribadi menuju arah Cilegon. Kemudian dilanjutkan menuju Anyer dan berhenti di kawasan Pantai Manuk. Selanjutnya untuk menuju Pulau Sangiang dapat menggunakan perahu motor. Lama perjalanannya kurang lebih sama dengan penyebrangan yang dimulai dari pelabuhan Anyer.

Namun pada akhirnya semua rute perjalanan akan bermuara di satu-satunya pelabuhan di Pulau Sangiang. Yaitu Pelabuhan Lagon Waru. Dari manapun perjalanan dimulai, semua perahu akan bersandar pada pelabuhan  Lagon Waru, tempat yang lebih mirip pantai yang lebih dangkal dan mudah untuk menepi di Pulau Sangiang.

Dari kejauhan pulau ini memang tampak jelas. Apalagi begitu sampai di dalamnya. Seperti pada waktu itu. Sekitar pukul 08:00, perahu berhasil menepi. Begitu masuk, udara yang sejuk dan segar cukup menyenangkan. Tampak pepohonan yang hijau dan rindang lengkap dengan tingkah polah burung-burung yang terbang kian kemari. Sangat mengasyikan.

Kalau sedang beruntung, panorama karang yang berada di bawah jembatan dermaga menjadi pemandangan indah yang memanjakan mata. Ditambah semilir angin yang selalu berhembus pelan, ketika cuaca sedang bersahabat. Cukup ideal untuk liburan dengan anggaran minim tanpa harus mengorbankan kualitas perjalanannya.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menikmati liburan di tempat ini. Meskipun sesekali tempat ini berkesan seperti minim fasilitas. Tapi kekayaan alamnya segera menampik kesan negatif itu.

Pulau dengan suhu udara berkisar antara 22° – 32°C ini, memiliki 3 pokok potensi wisata yang paling sering dikunjungi wisatawan. Yaitu wisata alam, wisata bahari, dan wisata budaya.

Seperti pada saat itu, tak lama setelah tiba di pelabuhan Lagon Waru, Pulau Sangiang, pesona wisata alam lebih menarik untuk dikunjungi sebagai pembuka pada serangkaian kegiatan jalan-jalan kami. Salah satu potensi wisata alam yang terdapat di pulau ini ada di bagian barat, barat laut, dan selatan pulau. Juga sepanjang pantai Batu Mandi dan area sekitar Gunung Gede. Panorama pantai menjadi daya tarik utamanya. Ada yang landai, ada juga yang curam.

Selain itu keanekaragaman ekosistem hutan juga menjadi daya tarik tersendiri. Di sini, terdapat 3 tipe ekosistem hutan yaitu ekosistem hutan dataran rendah, ekosistem hutan pantai, dan ekosistem hutan payau. Beberapa jenis flora di kawasan ini, antara lain cemara laut, bayur, ketapang, nyamplung, waru laut, walikukun bakau dan cantigi. Sementara jenis satwa yang ditemukan di dalam kawasan ini sangat beragam jenisnya. Sebagian memiliki populasi yang relative baik dan sebagian dilindungi. Diantaranya lutung, kucing hutan, landak, biawak, elang laut, dara laut, raja udang, belibis, kuntul karang, burung camar, pelatuk besi, burung cangak, ular sanca,  dan berbagai tentunya biota laut.

Di dalam hutan juga terdapat bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah. Seperti benteng-benteng bekas pertahanan Jepang. Bangunan-bangunan tersebut dipercaya sebagai peninggalan perang dunia kedua. Letaknya berada di sekitar pos TNI Angkatan laut. Situs-situs itu yang menjadi potensi wisata budaya tempat ini.

Soal bagaimana cara menikmatinya, itu sangat beragam. Kita bisa menikmatinya dengan cara lintas alam, mendaki gunung, memotret, bersepeda, atau bahkan tak jarang ada yang mendirikan tenda untuk berkemah.

Tapi kami sendiri tak memutuskan untuk itu semua. Kami lebih memilih untuk mendatangi salah satu goa yang cukup terkenal. Mereka menyebutnya goa lawar. Sepertinya nama “lawar” diambil dari asal kata “kelelawar” yang menghuni goa tersebut. Jumlahnya ratusan ekor.

Pemandangan kelelawar yang menempel di langit-langit goa, mungkin sudah biasa. Tapi begitu menoleh sedikit ke arah bawah, ada semacam cerukan dari karang yang tidak begitu besar. Atau biasa disebut goa karang. Cerukan ini tak beralas. Bawahnya langsung bersinggungan dengan air laut. Menariknya, cerukan ini dimanfaatkan sebagian predator laut-ikan hiu- untuk mencari makanan. Begitu satu kelelawar jatuh – siklus kehidupan atau rantai makanan pun tak terelakan – hiu yang bersembunyi di perairan segera menyambarnya.

Puas dengan keindahan alam, potensi wisata bahari bisa menjadi pilihan berikutnya. Setelah beberapa saat menyusuri hutan, kami menuju pantai pasir panjang. Hanya perasaan kagum yang ada di benak. Panorama cantik yang menampilkan perpaduan pantai pasir putih di satu sisi dan pantai berkarang di sisi yang lain, benar-benar memenuhi luas pandang. Sesekali riak yang terdorong ombak, habis diserap pasir. Sangat menarik perhatian.

Biasanya pantai berpasir seperti itu memang sangat pas kalau ingin menikmati keindahan pantai dan keragaman laut dangkal di pulau ini. Tak sekadar duduk-duduk di atas pasir, wisatawan juga bisa mencoba mengasah kepiawaian memancing. Atau sekadar kumpul-kumpul dan makan bersama dengan rekan.

Tapi kalau ingin menikmati keindahan bawah laut, lokasi Tanjung Raden, Kedongdong, dan Lagon Waru adalah yang paling pas. Area Lagon Waru lebih cocok untuk kegiatan snorkeling. Area ini cukup dangkal. Airnya cenderung tenang. Banyak dijumpai ikan-ikan kecil beraneka warna. Bergerak kesana kemari dengan koloninya. Sesekali bersembunyi di karang kalau didekati.

Sementara lokasi Tanjung Raden lebih dalam daripada Lagon Waru. Lebih cocok untuk scuba diving. Menikmati keindahan bawah laut. Di lokasi ini masih banyak dijumpai soft coral. Kondisi perairannya tak setenang di Lagon Waru, arus bawah laut yang kuat membuat soft coral seolah bergoyang mengikuti kemana arusnya. Sesekali terlihat simbiosis mutualisme antara anemone dan ikan badut. Tentunya fauna-fauna lainnya juga banyak yang bisa dijumpai.

Sangat menyenangkan! Satu tempat yang memberikan paket wisata lengkap. Pesona alam yang menakjubkan. Didukung keramahan masyarakat sekitar yang menjadikan tempat ini berkesan sangat bersahabat. Meskipun ada yang sedikit disayangkan dimana pulau dengan kelembaban nisbi 80% ini, seringkali terkena dampak dari peradaban kota-kota besar di sekeilingnya. Utamanya masalah sampah yang seringkali terbawa ombak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here